Jumat, 22 Mei 2015

Gunung Arjuna (3339 Mdpl) Via Tretes Julid II

Kerinduan kepada keindahan Gunung Arjuna membuat saya kembali lagi untuk melakukan pendakian ke gunung ini setelah tahun 2010 silam. Dalam pendakian kali ini saya ditemani seorang teman dari Malang dan bertemu di Terminal Arjosari, Malang tepat pukul 11.00 siang.

Biaya Transportasi Gunung Arjuna (3339 Mdpl) Via Tretes :
1. Malang-Pandaan : naik bus dengan waktu tempuh 1 jam Rp. 8000,00
2. Pandaan-Tretes : naik minibus dengan waktu tempuh 30 menit Rp. 15.000,00
3. Biaya Tiket Masuk Pos Perijinan Tretes Rp.7500,

Catatan Pendakian Gunung Arjuna (3339 Mdpl) Via Tretes :
Pos Perijinan-Pet Bocor (800 Mdpl) : 30 menit
Berangkat kamis siang dari Malang, sampai di Pos Perijinan sore dan kami langsung melakukan proses registrasi untuk langsung melanjutkan pendakian. Perjalanan awal melewati jalan makadam belakang Pos Perizinan membuat tenaga kami terkuras karena jalanan menanjak dan hujan turun sangat deras sore itu yang membuat jalanan berbatu menjadi licin. Setelah 30 menit berjalan di tengah hujan deras akhirnya kami sampai di Pet Bocor. Disini terdapat sebuah warung dan terdapat sumber air bersih. Disini juga terdapat area basecamp yang luas bagi yang ingin mendirikan tenda disini. Sambil menunggu hujan reda, kami memutuskan untuk beristirahat sambil memesan gorengan dan kopi hangat untuk menghangtkan badan.
 (Pos Izin Pendakian)

 (Pet Bocor)

(Pet Bocor Menjelang Petang)
Pet Bocor-Kokopan (1500 Mdpl) : 4 Jam
Setelah hujan reda, kami melanjutkan perjalanan dan diperlukan kehati-hatian karena jalan menjadi semakin licin. Jalan yang masih didominasi oleh bebatuan cukup menguras tenaga kami apalagi sore itu kabut cukup pekat dengan jarak pandang hanya 3 meter dan suasana mulai gelap karena hampir menjelang maghrib. Setelah sampai di Kokopan kami lalu mencari tempat untuk mendirikan tenda dan bermalam disini sebelum hujan turun lagi sambil memulihkan tenaga sebelum melanjutkan perjalanan esok hari yang akan semakin berat medan pendakianya. Suhu di Kokopan ini bisa mencapai 10-15 derajat celcius apabila cuaca dalam kondisi sangat dingin.
 (Kokopan)

 (Sunrise)

(Pagi hari di Kokopan)
Kokopan-Pondokan (2250 Mdpl) : 5 jam
Esok hari tiba pemandangan di Kokopan ini sangat indah, matahari pagi tersenyum ramah menghangatkan badan dan Gunung Penanggungan terlihat sangat bagus tanpa tertutup kabut.  Hari semakin siang bergegas kami mulai packing untuk melanjutkan perjalanan kembali. Kondisi medan masih didominasi bebatuan yang keras dan trek semakin menanjak naik. Kalau perjalanan menuju Kokopan kemarin kami harus melewati medan yang licin karena habis terkena guyuran air hujan, maka dalam perjalanan menuju ke Pos Pondokan kami harus melewati jalur yang semakin terus menanjak di tengah terik matahari yang sangat panas. Setelah melakukan perjalanan selama 5 jam akhirnya kami sampai di Pos Pondokan. Di pos ini karena lokasinya yang berada di lembah dan dikelilingi banyak pepohonan, suhu udara disini cukup dingin meskipun di siang hari.
 (Trek Menanjak)

 (Background Gunung Penanggungan)

 (Pondokan)

 (Gubuk Pondokan)
Pondokan-Lembah Kijang (2300 Mdpl) : 30 menit
Setelah beristirahat sebentar di Pondokan, perjalanan kami lanjutkan menuju Lembah Kidang. Medan menuju Lembah Kijang masuk menuju hutan melewati jalan setapak di tengha-tengah Alas Lali Jiwo. Trek sangat enak karena mendatar dan setelah berjalan 15 menit akan sampai pada Lembah Kijang 1. Disni banyak terdapat area basecamp dan sumber mata air, dan berjalan 10 menit lagi kita akan sampai pada Lembah Kijang 2 yang juga terdapat area basecamp dan sumber mata air. Di Lembah Kijang 2 ini merupakan tempat terakhir terdapat sumber mata air sebelum melanjutkan perjalanan menuju puncak yang masih 5 jam lagi dan tentunya dengan jalur yang semakin berat.
 (Lembah Kidang)

 Indahnya Padang Rerumputan)

 (Lembah Kidang 2)
Lembah Kijang-Watu Gedhe (2500 Mdpl) : 2 Jam
Waktu menunjukan pukul 15.00 sore, perjalanan kami lanjutkan kembali menuju Watu Gedhe. Jalur menuju Watu Gedhe harus melewati jalur setapak yang terus menanjak sampai atas bukit, kemudian jalur menjadi datar melewati tengah-tengah Alas Lali Jiwo yang sangat tenang dan sejuk suasananya. Kehati-hatian tetap harus diperhatikan agar tidak salah jalur karena kadang harus melewati semak belukar yang cukup rimbun. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya kita akan sampai pada sebuah sabana luas dengan rumput yang sangat hijau. Dari sini pemandangan sangat indah dan puncak sangat terlihat jelas sekali. Setelah beristirahat sebentar, perjalanan kami lanjutkan melewati tengah2 padang rumput. Setelah melewati padang rumput hijau, atur kondisi stamina karena trek selanjutnya harus melewati jalanan berbatu yang terus menanjak curam dan sesekali harus meraih akar-akar pohon agar tidak terpeleset terutama di jalur mendekati Watu Gedhe. Di Pos Watu Gedhe terdapat tempat yang cukup luas untuk mendirikan tenda dan pemandangan disini juga tidak kalah indah. Pos ini terletak di bawah Gunung Kembar.
 (Indahnya Alam)

(Watu Gedhe)
Watu Gedhe-Camp Bayangan (2950 Mdpl) : 1,5 Jam
Setelah memulihkan tenaga sejenak di Watu Gedhe, perjalanan kami lanjutkan kembali menuju puncak. Medan kali ini didominasi jalan setapak berbatu yang terus menanjak. Suhu udara sore itu sangat dingin apalagi dengan semakin tinggi suatu wilayah maka oksigen semakin tipis sehingga stamina benar-benar harus kita atur dengan baik agar tidak mual atau pusing. Hari sudah menjelang isya ketika kami berada di kawasan hutan Gunung Ringgit, akhirnya kami menemukan tempat datar yang bisa untuk membuat tenda. Berada pada ketinggian 2950 mdpl membuat suhu sangat dingin apalagi malam itu hujan turun lagi dan suhu udara mencapai 8 derajat celcius. Suasana di kawasan hutan Gunung Ringgit ini sangat tenang dan hening. Sesekali suara binatang malam sangat merdu terdengar. Hari semakin larut malam kami berusaha untuk istirahat sambil memulihkan tenaga untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak yang tinggal sedikit lagi di esok hari.
 (Pertigaan Jalur Arjuna-Welirang)

 (Plewangan Arjuna)

 (Indahnya Gunung Welirang)
Camp Bayangan-Puncak Gunung Arjuna (3339 Mdpl) : 1,5 Jam
Esok pagi menjelang, tampak matahari pagi memancarkan sinarnya diantara celah-celah pohon dan dedaunan membuat dinginya pagi hari itu menjadi terasa sejuk dan segar. Kabut mulai menghilang menyisakan titik-titik air di dedaunan dan burung-burung mulai berkicauan. Kami memutuskan untuk meninggalkan tenda dan peralatan kami dan membawa bekal secukupnya untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak dikarenakan medan yang cukup berat. Di sepanjang perjalanan menuju puncak pemandangan sangat indah dan cuaca sangat cerah pagi hari itu. Sebelum puncak kita akan melewati beberapa in memoriam pendaki yang meninggal disini. Alhamdulillah setelah berjalan kurang lebih 1,5 jam, akhirnya kami mencapai puncak tertinggi yaitu Puncak Ogal-Agil, Gunung Arjuna (3339 Mdpl). Segala puji bagi Allah SWT yang telah menciptakan alam yang sangat indah ini. Total perjalanan pendakian kami ke Puncak Ogal Agil, Gunung Arjuna (3339 Mdpl) Via Tretes adalah 15 jam lebih lambat ketika saya mendaki ke Gunung Arjuna di tahun 2010 silam yang hanya 12 jam 30 menit. Demikian petualangan kami kali ini, begitu indah Alam Nusantara.
 (In Memoriam)

 (View Gunung Semeru)

 (Batas Wilayah)

 (Pasar Dieng Arjuna)

 (Eksotis)

 (Menuju Puncak)

 (Trek Sebelum Puncak Dieng)

 (Puncak Ogal-Agil)

 (Indahnya Awan)

 (Sisi Lain Puncak Arjuna)

 (Bersama Fariska di Puncak)

 (Alhamdulillah Berhasil Sampai Puncak)
(Pasukan Langit, 22 Mei 2015)

Selasa, 17 Maret 2015

Latar Ombo (1600 Mdpl), Gunung Panderman

Setelah genap empat tahun berlalu terakhir kalinya saya dan kawan-kawan mendaki Gunung Panderman, akhirnya kerinduan itu terlaksana juga. Meskipun tidak sampai puncak karena tujuan kami kali ini hanya sampai Pos Latar Ombo yang berada di ketinggian 1600 mdpl, akan tetapi itu sudah cukup bagi kami untuk melepas rindu akan keindahan alam yang termasuk dalam gugusan pegunungan kawi ini. Berangkat sabtu sore selepas ashar, seperti biasa perjalanan kami lanjutkan menuju Kota Wisata Batu menuju Base Camp pendakian Gunung Panderman.

(Start Pendakian)

(Sumber Air)

(Jalur Pendakian)

(Vegetasi Hutan)

Memasuki Desa Seruk kemudian kita menitipkan sepeda motor di tempat penitipan yang dikelola oleh warga sekitar dimana kami dikenai biaya Rp. 5.000,00/malam. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki melewati jalan desa yang sudah beraspal. Jalan yang terus menanjak membuat tenaga kami terkuras sampai batas terakhir jalan beraspal. Setelah beristirahat sebentar perjalanan dilanjutkan menuju Pos Sumber Air (1330 mdpl), disini kita dapat mengambil air sebelum melanjutkan perjalanan.

 (Kabut Sore 1)

 (Kabut Sore 2)

 (Indahnya Kabut)

(Latar Ombo)

Sebelum melanjutkan perjalanan, ambil jalan setapak sebelah kiri yang menanjak dan terus ikuti jalur tesebut melewati lereng Gunung Bokong sampai kita pada tanah datar yang terdapat beberapa batu besar. Dari batu besar akan ada jalur bercabang kalau ke kiri jalan lebih datar tetapi lebih jauh karena memutar sedangkan kalau pilih ke kanan jalur lebih menanjak tapi lebih cepat karena memotong jalur dan nanti kedua jalur tersebut akan bertemu menjadi satu kembali. Setelah mengikuti jalan yang terus menanjak, maka akan sampai pada tanah datar yang luas yang bisa menampung lebih dari 20 tenda yang dinamakan Latar Ombo (1600 Mdpl). Perjalanan dari tempat penitipan sepeda sampai latar ombo memakan waktu kurang lebih 1-1,5 jam tergantung dari kondisi fisik individu masing-masing.

(Meong Sang Petualang)

(Tenyom2 Lucu)

 (Puncak Watu Gede Dibalik Kabut)

(Background Puncak Panderman)

Di latar ombo kita dapat menikmati pemandangan Kota Batu, Gunung Arjuna-Welirang dan Puncak Gunung Panderman dapat terlihat dari sini. Bagi yang ingin summit attack ke puncak biasanya akan mendirikan tenda disini sebelum melanjutkan perjalanan esok harinya. Dari latar ombo menuju puncak bisa ditempuh dengan 2 jam perjalanan mendaki. Bila pagi hari tiba kita juga dapat melihat kawanan monyet lucu di atas pohon yang sesekali minta makanan. Oleh karena itu harus hati-hati dengan barang bawaan yang kita bawa. Demikian petualangan kami kali ini, salam damai selalu dimanapun kita berada.
            (Pasukan Langit, 17 Maret 2015)

Kamis, 27 November 2014

Gunung Lawu (3265 Mdpl) Via Cemoro Sewu Jilid II

Setelah 3 bulan berlalu dari pendakian terakhir kami, akhirnya petualangan kami mulai lagi dan pilihan kali ini jatuh pada Gunung Lawu yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Gunung Lawu memiliki ketinggian 3265 mdpl dan merupakan gunung tertinggi kelima di Pulau Jawa. Dalam pendakian kali ini saya ditemani dua orang teman dari Malang yaitu Farieska dan Yuldan “Cowik”. Bagi saya pribadi ini adalah pendakian kedua saya ke Gunung Lawu setelah tahun 2010 silam dan jalur yang kami ambil adalah jalur Cemoro Sewu, Sarangan masuk Kecamatan Plaosan - Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berikut ini catatan perjalanan kami dalam pendakian ke Gunung Lawu (3265 Mdpl) kali ini :

Rute Jalur Transportasi :

Malang – Surabaya (Rp.15.000,00) : 1 Jam 30 Menit
Dari Malang kami sepakat berkumpul di Terminal Arjosari jam 21.00 malam dan perjalanan dilanjutkan dengan naik bus ekonomi menuju Surabaya turun di Terminal Bungurasih.

Surabaya – Solo : (Rp.46.000,00) : 7 Jam
Sampai Terminal Bungurasih, perjalanan dilanjutkan dengan naik bus jurusan Solo dan turun di Terminal Tirtonardi. Sesampai Solo karena perjalanan yang jauh, akhirnya subuh kita sampai terminal dan langsung mencari masjid untuk beristirahat sebentar dan menunaikan sholat subuh.

Solo – Tawangwangu (Rp.15.000,00) : 1 Jam
Ketika waktu menunjukkan pukul 06.00 pagi, kami melanjutkan perjalanan menuju Tawangmangu dengan naik Bus Langsung Jaya menuju Terminal Tawangmangu. Perjalanan kali ini sungguh indah karena melewati Kampus Universitas Negeri Solo (UNS) dan pemandangan hijaunya pepohonan membuat suasana mejadi segar dan bebas polusi.

(Terminal Tawangmangu)

Tawangmangu – Cemoro Sewu (Rp. 15.000) : 30 Menit
Sampai Terminal Tawangmangu yang berada pada ketinggian 1000 mdpl kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Pos Cemoro Sewu dengan naik angkutan yang biasa beroperasi terakhir sampai jam 17.00 sore. Ciri khas pegunungan dan lembah-lembah yang mempesona menjadikan perjalanan menuju Cemoro Sewu tidak membosankan. Tidak berapa lama akhirnya kami sampai di Pos Cemoro Sewu yang merupakan jalan raya tertinggi di Pulau Jawa yang berada pada ketinggian 1900 Mdpl. Cuaca sangat dingin dan sesekali kabut datang, disini banyak sekali warung-warung makanan dan banyak pengunjung yang datang untuk berwisata. Selain Gunung Lawu, ada dua tempat wisata yang terkenal di sini yaitu Air Terjun Grojogan Sewu dan Telaga Sarangan.

Rute Jalur Pendakian :

Pos Cemoro Sewu – Pos I Wesen-Wesen (2214 Mdpl) : 1,5 Jam
Sebelum memulai pendakian diwajibkan membayar registrasi Rp. 5000,00/orang. Perjalanan di mulai dengan jalan berbatu yang masih tertata rapi dengan kanan kiri pemandangan pohon cemara yang sangat hijau dan bagus dan sampai pada Pos Sayur karena ada sebuah peristirahatan di  tengah-tengah ladang sayur dimana pemandangan sangat indah sekali. Bukit-bukit cemara hujau sangat indah tertata rapi membuat perjalanan tidak menjenuhkan. Setelah dari Pos Sayur ini perjalanan dilanjutkan dan kita akan menemukan pos lagi dimana disini terdapat mata air yang orang sering menyebutnya Sendang Panguripan. Trek jalur menuju Pos I tidak begitu menanjak dan setelah 1,5 jam perjalanan akhirnya kita sampai di Pos I Wesen-Wesen. Disini terdapat tempat peristirahatan dan juga terdapat warung yang menyediakan berbagai macam makanan.

 (Pos Cemoro Sewu)

 (Start Pendakian)

(Menuju Pos I)

Pos I Wesen-Wesen – Pos II Watu Gedek (2578 Mdpl) : 2 Jam
Tantangan dimulai dari sini karena perjalanan menuju Pos II sangat menanjak dan jarak tempuh yang paling lama dari setiap pos yang ada. Trek bebatuan yang terus menanjak dan teriknya panas matahari merupakan tantangan tersendiri bagi para pendaki. Kami lebih sering beristirahat sekedar untuk memulihkan tenaga. Di tengah perjalanan kami melewati dimana orang menyebutnya Watu Jago. Akhirnya setelah melewati pendakian 2 jam dari Pos I kami sampai di Pos II Watu Gedek. Pos ini juga terdapat tempat peristirahatan dan kami bertemu dengan pendaki lain yang sedang beristirahat disini.

Pos II Watu Gedek – Pos III Watu Gede (2800 Mdpl) : 1, 5 Jam
Perjalanan Pos II menuju Pos III relatif sama dengan pos sebelumnya dimana jalur trek berbatu masih mendominasi dan cuaca mulai dingin karena hari mulai sore dan kabut mulai turun. Sampai di Pos III Watu Gede kami beristirahat cukup lama untuk memulihkan stamina karena perjalanan selanjutnya akan lebih menanjak lagi. Setelah cukup beristirahat tepat pukul 15.00 sore kami melanjutkan perjalanan yang tinggal separuh perjalanan lagi.

 (Pos III)

(Beristirahat di Pos III)

Pos III Watu Gede – Pos IV Watu Kapur (3082 Mdpl) : 1,5 Jam
Sebuah perjalanan yang menguras tenaga dan bau belerang yang menyengat merupakan perjalanan kami selanjutnya. Dengan kemiringan hampir 45 derajat kami terus melakukan pendakian, dan beruntung cuaca tidak lagi panas dan kabut turun sehingga membuat suasana menjadi segar menambah semangat kami untuk meneruskan pendakian. Akhirnya kami sampai di Pos IV Watu Kapur dan disini pemandangan sangat indah sekali. Segala lelah dan letih selama pendakian akhirnya terbayar dengan pemandangan yang sangat menakjubkan. Dari kejauhan tampak Telaga Sarangan terlihat mempesona yang sesekali hilang dibalik kabut. Kami sempat mengabadikan momen ini dengan berfoto bersama.

 (Pos IV)

 (Keep The Spirit)
(Beautiful 3082 Mdpl)

Pos IV Watu Kapur – Pos V Jalatunda (3115 Mdpl) : 20 Menit
Perjalanan kemudian kami lanjutkan sampai puncak bukit yang tinggal sedikit lagi. Di puncak bukit ini kami melewati sebuah gua dimana orang sering menyebutnya Sebagai Gua atau Sumur Jalatunda. Sesampai di Pos V Jalatunda kami mengucap syukur karena telah berhasil melewati rintangan yang sangat berat dan perjalanan menuju puncak hanya membutuhkan satu jam perjalanan pendakian. Di Jalatunda ini karena lokasinya berada di puncak bukit, pemandangan benar-benar sangat indah sekali. Padang rumput dan edelweiss merupakan pemandangan yang menjadi ciri khas di Jalatunda ini.

 (Pos V)

(Sunset di Pos V)

Pos V Jalatunda – Sendang Drajad (3157 Mdpl) : 20 Menit
Mengingat hari menjelang maghrib akhirnya kami melanjutkan perjalanan menuju Sendang Drajad dan bermalam disana sebelum summit attack esok paginya menuju puncak. Perjalanan dari Jalatunda menuju Sendang Drajat merupakan perjalanan yang sangat kami tunggu karena selama perjalanan kami disuguhi pemandangan yang sangat indah yang bisa membuat segala rasa lelah dan letih menjadi hilang seketika dan bisa memberikan semangat tersendiri. Tampak indah cahaya kuning kemerahan yang mulai tenggelam di ufuk barat menambah eloknya keindahan sekitar. Setelah sampai di Sendang Drajad yang hanya berjarak 30 menit dari puncak, suasana sangat dingin sekali dimana ketika malam hari bisa sampai 10 derajat celcius. Di Sendang Drajad ini ada sebuah warung yang buka dan kami memutuskan tidur di dalam warung dan tidak membuka tenda. Berteman kopi atau teh hangat dan nasi pecel lauk telur merupakan teman kami setelah 7 jam pendakian yang sangat melelahkan.

 (Antara Pos V dan Sendang Drajad)

 (Indahnya Tebing Batu)

 (Hamparan Padang Luas)

(Warung di Sendang Drajad)

Sendang Drajad – Puncak Hargo Dumilah (3265 Mdpl) : 30 Menit
Dinginya malam membuat kami susah untuk tidur meskipun sudah memakai jaket tebal dan sleeping bag. Akhirnya waktu yang kami tunggu telah tiba, subuh menjelang kami bangun untuk bersiap-siap melakukan pendakian menuju puncak. Banyak sekali ternyata pendaki yang sudah berangkat dan kami berangkat pukul 5 pagi dan perjalanan sampai puncak tepat 30 menit perjalanan dengan melewati jalan setapak yang terus menanjak dan pemandangan disini sangat indah sekali dimana cahaya kuning keemasan mentari pagi mulai tampak di balik awan timur. Di Puncak Hargo Dumilah, Gunung Lawu sebagai titik tertinggi 3265 mdpl kita dapat langsung menyaksikan sebuah penciptaan alam yang sangat indah dari Allah SWT dan kita wajib bersyukur karenanya masih diberi kesempatan menikmati ini semua.

 (Indahnya Esok Pagi)

 (Berkibarlah Nusantara)

 (Sunrise)

 (Cowik ???)
 (Gaya Cowik)

 (Faris di Puncak Lawu)

 (Puncak Hargo Dumilah)

Setelah kurang lebih satu di puncak kami memutuskan turun kembali ke Sendang Drajad. Sebelum turun kembali ke Cemoro Sewu kami berpamitan kepada Ibu warung karena telah diberi tempat untuk tidur dan tentunya suatu saat kami ingin kembali lagi kesini untuk yang ketiga kalinya. Banyak pengalaman-pengalaman baru yang kami dapat dari pendakian kali ini dan tentunya di setiap perjalanan pasti ada hikmah yang didapat. Perjalanan turun menuju Cemoro Sewu dengan berjalan normal memakan waktu 4 jam perjalanan dan tepat pukul 12.00 siang kami sampai di Pos Cemoro Sewu. Demikian cerita petualangan kami kali ini dalam pendakian Gunung Lawu (3265 Mdpl) Via Cemoro Sewu. Salam persaudaraan dimanapun kita berada…You’ll Never Walk Alone.
(Pasukan Langit, 27 November 2014)